3.1.a.10. AKSI NYATA

 3.1.a.10. AKSI NYATA

Oleh Weda Arumwinarni

Pelaksanaan aksi nyata. kegiatan aksi nyata pada modul ini diharapkan para guru penggerak dapat menerapkan dan mendokumentasikan kegiatannya dalam pelaksanaan pengambilan keputusan yang kemudian dituangkan dalam sebuah portofolio yang mengandung 4F yaitu peristiwa ( Facts), perasaan (feelings), pembelajaran (findings) dan penerapan ke depan (future). Portofolio hal ini saya menyusunnya dalam bentuk artikel melalui blog pribadi saya. 

 

A. PERISTIWA (FACTS)

Berdasarkan Surat Edaran dari Bupati Kabupaten mengenai Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) 50% dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan  Covid-19 tertanggal 2 Februari 2022. Pembelajaran Tatap Muka Terbatas mulai dari jumlah siswa yang belajar pada waktu yang bersamaan, jumlah jam dalam sehari, dan durasi waktu selam proses pembelajaran, tentu saja dengan mematuhi protokol kesehatan covid 19 yang dilakukan oleh semua pihak, mulai dari murid, guru, tendik, dan kepala sekolah serta mengintensifkan komunikasi dengan orang tua/wali untuk meningkatkan  penegakan prokes secara ketat. Hal ini kami lakukan agar terciptakanya keadilan bagi semua murid untuk mendapatkan hak yang sama dalam belajar.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas ini memilki baberapa hambatan terkait dengan semangat belajar siswa. Sementara pada petengahan bulan Maret nanti siswa kelas 1-5 harus melaksanakan Penilaian Tengah Semester (PTS). Yang paling merasakan efek pembelajaran ini adalah siswa kelas 6. Di satu sisi ingin menegakkan peraturan untuk pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) 50% dan di sisi lain ada tuntutan untuk mempersiapkan pelaksanaa ASPD yang semakin dekat.  

Pada hari Selasa, 2 Maret 2022 lalu kepala sekolah mengadakan rapat koordinasi persiapan pelaksanaan penilaian tengah semester (PTS). Dalam pelaksnaan rapat tersebut membahas tentang teknik pelaksanaan PTS yang pimpin langsung oleh ibu Kepala Sekolah



Dalam rapat tersebut Kordinator Kurikulum menyampaikan bahwa soal sudah tersedia dari Pimpinan Daaerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman kecuali soal mata pelajaran Kemunammadiyahan dan Bahasa Arab. Dalam rapat tersebut juga dibahas terkait penentuan jumlah soal yang dibuat oleh sekolah dan teknik pelaksanaan PTS bagi yang tidak memiliki gawai, siswa yang sedang sakit/isoman. Dalam hal ini saya bertindak sebagai ketua Panitia PH, PTS, dan PAS memberikan kesempatan kepada semua peserta rapat untuk memberikan tanggapan/pendapat. Setelah menimbang beberapa hal dari semua pendapat dalam hal penentuan jumlah soal yang akan dibuat kami menyepakati bahwa pelaksanaan PTS akan dilaksanakan pada hari senin tanggal 5 sampai 11 Maret 2022. Pembuatan soal melalui google form dengan jumlah soal 25 nomor soal pilihan ganda untuk mata pelajaran kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab kelas 1 dan 2.

Setelah membahas teknik penyusunan soal, selanjutnya kami membahas topik teknik pelaksaan PTS. Pelaksanakan PTS semester 2 ini dilakukan secara daring dan luring.   Hal teknik pelaksaan PTS yang perlu dibahas yaitu bagi murid yang tidak memiliki gawai untuk PTS secara daring dan siswa yang sakit atau yang karena alasan tertentu harus isoman untuk PTS luring.

 

Kasus yang dialami oleh beberapa murid kami ini merupakan kasus dilema etika, yang dalam pengambilan keputusannya tergolong dalam prinsip Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Beragam pendapat yang disampaikan mulai dari rekan guru lain serta kepala sekolah ditampung dan dilakukan pengujian pengambilan keputusan, dalam kasus ini kami melakukan 9 langkah konsep pengambilan dan pengujian hasil keputusan untuk mendapatkan keputusan yang tepat.dan terbaik.sebagai berikut:

1.    Menentukan nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut adalah beberapa murid yang tidak dpat mengikuti PTS karena tidak memiliki gawai, ada juga beberapa siswa yang sakit atau isoman sedangkan di sisi lain murid-murid tersebut harus mengikuti ulangan tengah semester tersebut dan mendapatkan nilai (Rasa Keadilan Lawan rasa Kasihan).

2.    Menentukan pihak yang terlibat, yaitu para murid yang tidak memiliki gawai dan siswa yang sakit/isoman bersama Orangtua, wali kelas, guru, Kepala sekolah,

3.    Menemukan fakta dalam kasus ini adalah beberapa murid yang tidak memiliki gawai dan siswa yang sakit/isoman untuk melaksanakan ulangan tengah semester.

4.    Melakukan pengujian benar dan salah dalam kasus ini yaitu sebagai berikut :

a)      Tidak terdapat pelanggaran hukum

b)      Tidak terdapat pelanggaran peraturan/kode etik profesi

c)      Tidak terdapat kesalahan dalam uji intuisi

d)     Perasaan tidak nyaman jika keputusan dipublikasikan di halaman depan koran

e)      Hal yang sama akan dilakukan oleh para tokoh atau panutan/idola

5.       Paradigma yang terjadi adalah

§  individu vs Masyarakat

§  Rasa keadilan vs rasa kasihan

§  Jangka panjang vs jangka pendek

6.    Tiga (3) prinsip penyelesaian dilema yang dipakai adalah peraturan dan rasa peduli

7.    Investigasi Opsi Trilemma yaitu pihak sekolah melakukan musyawarah secara virtual bersama komite dengan menghadirkan orangtua murid tersebut terkait pelaksanaan ulangan akhir bagi anak-anaknya.

8.    Keputusan yang akan saya ambil adalah melakukan musyawarah dengan kepala sekolah, guru dan pihak terkait di sekolah untuk mendapatkan keputusan mufakat yang terbaik bagi muird-murid tersebut sehingga mendapatkan haknya dalam mengikuti ulangan tengah semester

9.    Melihat kembali keputusan.

    keputusan yang di ambil tersebut kami berpikir sudah dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh para murid yang memiliki keterbatasan dalam pelaksanaan  ulangan tengah semester tersebut.

Setelah kami mendapatkan hasil mufakat bahwa beberapa murid kami yang tidak memiliki gawai tersebut dihadirkan di sekolah selama pelaksanaan penilaian tengah semester dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yaitu 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) untuk dapat mengikuti ulangan tengah semester. Adapun media yang digunakan adalah laptop sekolah. Sedangkan siswa yang sakit/isoman mengerjakan semua soal di rumah tanpa diawasi oleh guru, tetapi tetap mengedepankan kejujuran.. Dengan demikian semua murid mendapatkan hak yang sama baik dalam belajar maupun dalam melaksanakan ulangan tengah semester.



B. PERASAAN (FEELINGS)

           Saya merasa senang karena masalah Dilema Etika yang saya hadapi mendapatkan solusi jalan keluar dengan terlebih dahulu menggunakan pertimbangan 4 Paradigma, 3 Prinsip yang mendasari pemikiran saat mengambil keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Jalan keluar yang diputuskan dirasa sangat tepat dimana murid-murid kami yang tidak memiliki gawai dan siswa yang sakit/isoman mendapatkan hak untuk mengikuti ulangan tengah semester dengan bantuan sarana sekolah yang kami miliki.

C. PEMBELAJARAN (FINDINGS)

            Pembelajaran yang saya dapat dari pelaksanaan aksi nyata ini adalah kematangan dalam mengelola diri dan keadaan dalam menghadapi suatu masalah dan mengambil sebuah keputusan yang terbaik, yang bermanfaat bagi diri, dan orang banyak. dalam penanganan suatu masalah utamanya masalah dilema etika dibutuhkan pemikiran dan pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusan.

D. PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Untuk menindaklanjuti apa yang telah saya dapat dan pahami modul 3.1 tentang Pengambilan keputusan sebagai Pemimpin pembelajaran, 4 Paradigma, 3 Prinsip, 9 langkah pengujian keputusan akan saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya dalam lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan luar sekolah. 

 

 

 

 



Komentar